Photobucket

Sunday, November 7, 2010

salam imtihan [berubah untuk merubah]..

Bismillahirrahmanirrahim..



Subhanallah..hebat sungguh...kuasa perubahan yang ada dalam suasana dekat-dekat nak exam nie...
Kenapa tidak,..rata-rata daripada kita mengalami "turning point"  dalam tempoh yang singkat...berubah menjadi lebih positif..dengan tidak semena-mena boleh dikatakan bertambah tahap "kewarakan"..alhamdulillah..satu perubahan yang postif...namun perlu diingat..semoga perubahan ini bukan sekadar hangat-hangat tahi ayam...BUKAN  pada waktu-waktu tertentu..Exam ipt akan datang dan akan pergi..namun sama-sama kita beringat bahwa Exam daripada Allah s.w.t available setiap masa..

Apapun semoga teman-teman yang akan/sedang/telah mengambil exam bagi semester ini dapat LAKUKAN YANG TERBAIK dan senantiasa meletakkan SEPENUH  "pengharapan" kepada-NYA insyaAllah..Moga redha dengan apa jua yang diberikan oleh-NYA..

Firman Allah s.w.t yang bermaksud, " Apabila kamu berazam,maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang betawakkal." [al-imran: 159]

jadual exam 3rd year student  mechanical engineering [structure & material]                                               

Allahumma ja'alna minan najihin wan faiziin wal mumtaziin fi kulli imtihan fi kulli madah fid din fid dunya wal akheerah..

Saturday, November 6, 2010

Update and Upgrade

1. Salimul Aqidah
Aqidah yang bersih (salimul aqidah) merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan- ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam’ (QS 6:162). Karena memiliki aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam da’wahnya kepada para sahabat di Makkah, Rasulullah Saw mengutamakan pembinaan aqidah, iman atau tauhid.
2. Shahihul Ibadah
Ibadah yang benar (shahihul ibadah) merupakan salah satu perintah Rasul Saw yang penting, dalam satu haditsnya; beliau menyatakan: ‘shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.’ Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul Saw yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.
3. Matinul Khuluq
Akhlak yang kokoh (matinul khuluq) atau akhlak yang mulia merupakan sikap dan prilaku yang harus dimiliki oleh setkal muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat. Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah Saw diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah di dalam Al- Qur’an, Allah berfirman yang artinya: ‘Dan sesungguhnya kamu benar- benar memiliki akhlak yang agung’ (QS 68:4).
4. Qowiyyul Jismi
Kekuatan jasmani (qowiyyul jismi) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat atau kuat, apalagi perang di jalan Allah dan bentuk- bentuk perjuangan lainnya. Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk yang penting, maka Rasulullah Saw bersabda yang artinya: ‘Mu’min yang kuat lebih aku cintai daripada mu’min yang lemah’ (HR. Muslim).
5. Mutsaqqoful Fikri
Intelek dalam berpikir (mutsaqqoful fikri) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas) dan Al-Qur’an banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia antuk berpikir, misalnya firman Allah yang artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang, khamar dan judi. Katakanlah: ‘pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.’ Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir (QS 2:219). Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktivitas berpikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Bisa kita bayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatka pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu. Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang sebagaimana firman-Nya yang artinya: Katakanlah:samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS 39:9).
6. Mujahadatun Linafsihi
Berjuang melawan hawa nafsu (mujahadatun linafsihi) merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim, karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan dan kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Oleh karena itu hawa nafsu yang ada pada setkal diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Tidak beragmana seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam) (HR. Hakim).
7. Harishun ‘ala Waqtihi
Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt banyak bersumpah di dalam Al-Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya. Allah Swt memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, Yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan:
‘Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu.’ Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi. Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk memanaj waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi Saw adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.
8. Munazhzhamun fi Syu’unihi
Teratur dalam suatu urusan (munzhzhamun fi syuunihi) termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al-Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya. Dengan kata lain, suatu udusán dikerjakan secara profesional, sehingga apapun yang dikerjakannya, profesionalisme selalu mendapat perhatian darinya. Bersungguh-sungguh, bersemangat dan berkorban, adanya kontinyuitas dan berbasih ilmu pengetahuan merupakan diantara yang mendapat perhatian secara serius dalam menunaikan tugas-tugasnya.
9. Qodirun ‘alal Kasbi
Memiliki kemampuan usaha sendiri atau yang juga disebut dengan mandiri (qodirun alal kasbi) merupakan ciri lain yang harus ada pada seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian, terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Karena itu pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya raya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah, dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al-Qur’an maupun hadits dan hal itu memilik keutamaan yang sangat tinggi. Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik, agar dengan keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah Swt, karena rizki yang telah Allah sediakan harus diambil dan mengambilnya memerlukan skill atau ketrampilan.
10. Naafi’un Lighoirihi
Bermanfaat bagi orang lain (nafi’un lighoirihi) merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaannya karena bermanfaat besar. Maka jangan sampai seorang muslim adanya tidak menggenapkan dan tidak adanya tirák mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berpikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dalam hal-hal tertentu sehingga jangan sampai seorang muslim itu tidak bisa mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Dalam kaitan inilah, Rasulullah saw bersabda yang artinya: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Qudhy dari Jabir). Demikian secara umum profil seorang muslim yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits, sesuatu yang perlu kita standarisasikan pada diri kita masing-masing.

Bila diri takutkan azab Allah..

Dalam sebuah riwayat menyatakan bahawa ada seorang lelaki tua sedang berjalan-jalan di tepi sungai, sedang dia berjalan-jalan dia terpandang seorang anak kecil sedang mengambil wudhu' sambil menangis. Apabila orang tua itu melihat anak kecil tadi menangis, dia pun berkata, "Wahai anak kecil kenapa kamu menangis?"






Maka berkata anak kecil itu, "Wahai pakcik saya telah membaca ayat al-Qur'an sehingga sampai kepada ayat yang berbunyi, "Yaa ayyuhal ladziina aamanuu quu anfusakum" yang bermaksud, " Wahai orang-orang yang beriman, jagalah olehmu sekalian akan dirimu." Saya menangis sebab saya takut akan dimasukkan ke dalam api neraka."


Berkata orang tua itu, "Wahai anak, janganlah kamu takut, sesungguhnya kamu terpelihara dan kamu tidak akan dimasuk- kan ke dalam api neraka." Berkata anak kecil itu, "Wahai pakcik, pakcik adalah orang yang berakal, tidakkah pakcik lihat kalau orang menyalakan api maka yang pertama sekali yang mereka akan letakkan ialah ranting-ranting kayu yang kecil dahulu kemudian baru mereka letakkan yang besar. Jadi tentulah saya yang kecil ini akan dibakar dahulu sebelum dibakar orang dewasa."

Berkata orang tua itu, sambil menangis, "Sesungguh anak kecil ini lebih takut kepada neraka daripada orang yang dewasa maka bagaimanakah keadaan kami nanti?"

Wednesday, October 28, 2009

bittaufiq wannajah fi kulli imtihan








kepada semua teman-teman baik sekampus mahupun di kampus-kampus yang lain di
seluruh pelosok malaysia...
selamat menghadapi peperiksaan akhir sem nie..
all the best..

faculty : faculty of mechanical engineering
programme : bachelor of mechanical engineering (structure & material)
subject for this sem :
(final exam)
1)pem.sosio ekonomi malaysia
2) fluid mechanic 1
3)dynamic
4)solid mechanic 1
5)manufacturing process

Saturday, October 17, 2009

jadilah pejuang yang menang

salam ..asif jiddan..atas kelemahan dan kekurangan diri, lama betul biarkan ruangan ini kaku tak terimarah..moga pengunjung tak bosan untuk berkunjung ke ruangan ini...
tq..

"Jadilah Pejuang Yang Menang"



gambar hiasan jak


Setiap pejuang tentunya mengharapkan kejayaan. Tapi sayang ada pejuang-pejuang Islam yang tertipu dengan erti kemenangan. Kadang-kadang terjadi, mereka tertipu dengan wasilah atau alat perjuangan. Mereka menyangka mereka sudah mendapat kemenangan, sedangkan mereka baru berjaya mendapatkan alatnya sahaja. Mereka lupa kepada matlamat sebenar perjuangan.Contohnya ada yang menganggap pembangunan ekonomi adalah langkah asas dalam membangunkan Islam. Kononnya dengan utuhnya ekonomi umat Islam maka utuhlah Islam itu sendiri. Malangnya, setelah berjaya dalam bidang ekonomi, yang terbangun dalam diri mereka hanyalah material, tapi Islam tidak juga terbangun. Syariat Islam tidak juga dapat ditegakkan,bukan saja dalam masyarakat bahkan dalam diri.Ada juga pejuang yang menganggap apabila sudah mendapat kuasa, mereka sudah menang. Mereka terlupa matlamat perjuangan yang sebenarnya. Walaupun dunia ini jatuh dalam genggaman mereka, tetapi jika masyarakatnya tidak dapat diubah kepada pengamalan Islam yang sempurna, maka sebenarnya mereka masih kalah.

Sejarah menceritakan para pengikut Thalut lupa pada perjuangan setelah terjumpa sungai. Walaupun dipesan-pesan oleh Thalut agar jangan berlengah-lengah di tebing sungai, namun ramai juga yang enggan meneruskan perjalanan dan ingin memulakan penghidupan baru di tebing sungai itu. Sebenarnya perkara ini berpunca daripada beberapa kesilapan para pejuang itu sendiri antaranya :
? Tugas sebenar seorang pejuang.
? Kurang memahami matlamat perjuangan.
? Tiadanya keikhlasan dalam perjuangan.
? Dalam hati mereka masih ada cinta dunia, ada tujuan-tujuan peribadi dalam perjuangan, ingin kedudukan, pengaruh dan sebagainya.

Bila ramai individu begini dalam perjuangan, perjuangan itu akan hanyut seperti hanyutnya pondok buruk dilanda air bah besar. Malanglah jika ini terjadi, di dunia terhina manakala di Akhirat terseksa. Seseorang pejuang itu mesti tahu bahawa dia mempunyai dua tugas.

Pertamanya membaiki diri dan kedua membaiki masyarakat. Matlamat perjuangan Islam ialah menegakkan kalimah Allah di muka bumi. Oleh itu perlu ditegakkan kalimah Allah dalam diri dahulu.Inilah perjuangan pertama yang perlu ditempuhnya. Peribadi pejuang adalah lambang kepada perjuangan. Sikap dan perlakuannya merupakan lisanul hal yang menjadi contoh kepada orang-orang yang didakwahnya. Seorang pejuang yang mengajak orang kepada Islam tetapi dirinya sendiri tidak menggambarkan peribadi mukmin yang sejati, samalah seperti bapak ketam yang mengajar anaknya berjalan betul.



Juga penting dalam perjuangan ialah bantuan Allah. Ia penentu kepada kejayaan itu sendiri. Syarat untuk mendapat anugerah rahmat dan pertolongan-Nya ialah taqwa sepertimana
firman-Nya yang bermaksud:
“Sesungguhnya Allah penolong orang yang bertaqwa.”
Al Jathiyah : 19
Untuk menjadi pejuang yang bertaqwa, seseorang itu perlu menempuh jalan yang rumit. Secara ringkasnya ada lapan syarat menuju taqwa:

1. Perlu ada kesedaran Islam. Berlapang dada menerima syariat Islam. Hasil daripada kesedaran itu, mendorongnya mencari ilmu untuk melengkapkan diri sebagai hamba Allah yang diredhai-Nya.

2. Memahami Islam itu sendiri. Kefahaman lahir daripada ilmu yang dicari tadi. Ilmu yang terbaik terhasil daripada gabungan teori dan pengalaman. Kefahaman dalam perjuangan adalah penting agar tidak tersilap langkah. Kefahaman boleh ditanam melalui pembacaan, menghadiri kelas-kelas pengajian dan juga pengalaman.

3. Yakin dengan apa yang telah difahami itu. Contohnya, setelah faham dan yakin hanya Islamlah agama yang benar sebagaiman firman-Nya:
“Agama yang benar disisi Allah ialah Islam.”

Maka berlandaskan keyakinan inilah muncul peribadi yang kental jiwanya, hatta nyawa pun sanggup dijadikan galang ganti untuk mempertahankan Islam yang dicintai. Hasil daripada keyakinanlah maka para sahabat sanggup berhabisan harta, menanggung penderitaan dan berjuang hingga ke titisan darah yang terakhir. Inilah pentingnya keyakinan dalam membina taqwa.

4. Sanggup melaksanakan apa yang diyakini itu. Jika kita yakin hanya Islam agama yang benar, yang boleh menyelesaikan segala persoalan hidup maka kita mesti sanggup untuk melaksanakan hukum-hakam Islam serta sanggup pula memperjuangkannya. Misalnya kita sudah yakin menutup aurat itu wajib, maka kita mesti sanggup menunaikannya. Kesanggupan ini tanda perubahan pada diri. Perubahan pada pengamalan adalah titik tolak menuju taqwa.




5. Mujahadatunnafsi. Namun inilah yang paling sukar ditempuhi, kerana nafsu ialah musuh manusia yang paling jahat. Ia tidak berbatang tubuh yang boleh dikeronyok sampai mati, sebaliknya ia ada dalam diri. Allah telah memberi amaran tentang tipuan nafsu yang jahat ini sepertimana firman-Nya yanng bermaksud :
“Sesungguhnya nafsu itu sangat mengajak kepada kejahatan.”
(Yusuf : 53)
Nafsu umpama daki yang melekat di badan, namun menghilangkannya tidak semudah mencuci daki. Ia perlu digosok, dibersihkan dan disental setiap masa. Mujahadatunnafsi adalah jihad yang paling besar dan berterusan.

6. Istiqamah beramal. Ada tiga perkara yang perlu diberi perhatian iaitu :
? Mengekalkan amalan walaupun sedikit.
? Memilih amalan yang berterusan untuk diri.
? Mempelbagaikan amal walaupun sedikit.


Amalan yang istiqamah akan memberikan kesan umpama air yang dititiskan ke batu yang keras; sekeras-keras batu pun akan lekuk juga akhirnya. Maka amalan yang istiqamah akhirnya akan membuahkan iman dan akhlak serta akan menjadi benteng daripada godaan nafsu dan syaitan yang tidak pernah rehat.

7. Ada jemaah

8. Di samping semua syarat di atas, kita hendaklah senantiasa berdoa kepada Allah semoga Allah memelihara dan memberi taufiq kepada kita.

Seorang pejuang yang sudah berjaya mendapat taqwa, ertinya dia sudah mendapat kejayaan yang tidak ternilai. Taqwa adalah syarat utama untuk berjaya dalam membaiki masyarakat dan yang paling penting untuk mendapat kemenangan hakiki iaitu kemenangan di Akhirat sepertimana firman Allah yang bermaksud :

“(Iaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, nescaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai dan memasukkan kamu ke tempat tinggal yang baik di dalam Syurga Adnin. Itulah keuntungan (kejayaan) yang besar.”
(Surah As Shoff : 11-12)



moga kita mampu meletakkan diri kita dalam kalangan orang yang beruntung.